JEJAK PEMIKIRAN GURU BESAR HUMANIORA

SEGERA TERBIT

JEJAK PEMIKIRAN GURU BESAR HUMANIORA

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Penulis: Noerhadi Magetsari, Lilawati Kurnia Dan A. Dahana, Agus Arismunandar, Bambang Wibawarta, Titik Pudjiastuti, Setiawati Darmoyuwono, Jenny Harjanyto (almh), Susanto Zuhdi, Melani Budianta, Manneke Budiman, Ketut Suriajaya, Djoko Marihandono, Cecep Eka Permana

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia sejatinya mempunyai sejarah panjang sebagai salah satu fakultas yang didirikan paling awal di lingkungan Universitas Indonesia. Pertama kali dibuka Faculteit der Letteren end Wijsbegeerte pada tanggal 1 Oktober 1940, jadi pada zaman pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Pada tahun 1947, ketika Indonesia telah merdeka, nama fakultas itu diubah menjadi Fakulteit Sastra dan Filsafat. Akhirnya, pada masa awal kemerdekaan namanya menjadi Fakultas Sastra (FSUI). Pada tahun 2002, FSUI berganti nama lagi menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIBUI) hingga sekarang.

Selama perjalanan pengembangan humaniora di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, telah banyak dihasilkan sejumlah guru besar yang berjasa dalam menjayakan kajian ilmunya masing-masing di FIBUI. Tokoh besar di bidang akademis itu sudah selayaknya dikenang, pantas dihargai jasanya, dan tentu saja dijadikan acuan positif oleh generasi penerus di FIBUI.

Atas dasar pemikiran itulah, Dewan Guru Besar FIBUI periode 2020—2024 mempersembahkan buku kenangan kepada para Guru Besar pembangun FIBUI. Berkat jasanya, FIBUI berhasil bertumbuh kembang, dan berjaya dalam kajian kebudayaan Indonesia. Sebagai persembahan kepada Guru Besar terdahulu, Buku ini berisi uraian yang berkenaan dengan riwayat hidupnya, upaya pengembangan keilmuan, dan capaian ilmiah yang mengharumkan nama mereka. Adapun penyusun buku kenangan ini adalah para mahasiswa Guru Besar itu, mereka yang pernah dekat secara akademis, dan mampu mengekspresikan pergaulan ilmiah dengan guru besar terdahulu dalam riwayat ringkas yang mudah dipahami.
Sebelum menyusun riwayat tersebut, DGB FIBUI mengadakan pertemuan untuk menentukan sejumlah kriteria. Para anggota berhasil menyepakati kriteria pemilihan guru besar dan penyusunan riwayatnta.

1. Meriwayatkan guru besar yang telah wafat.
2. Menampilkan kajian di bidang kebudayaan yang dikembangkan setiap guru besar sehingga merupakan ‘’tonggak’’ yang mengesankan dalam pengembangan keilmuan selanjutnya.
3. Terdapat guru besar penulis riwayat yang dipandang dekat dengan guru besar terdahulu dan bersedia untuk menyusun riwayatnya.

Judul buku ini adalah Jejak Pemikiran Guru Besar. Setelah melalui diskusi tentang riwayat hidup dan riwayat keilmuan guru besar terdahulu, akhirnya dapat disusun riwayat para guru besar terdahulu oleh murid-muridnya yang berjabatan Guru Besar FIBUI.

 

About the Author: admin

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *