TEKNIK ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Streptococcu pneumoniae

Segera Terbit

TEKNIK ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Streptococcu pneumoniae

Tim Penulis :
Dodi Safari, S.Si., Ph.D
Yayah Winarti, S.Tr.AK
Wisnu Tafroji, S.Si., M.Biomed Miftahuddin Majid Khoeri, S.Kel., M.Si Korrie Salsabila, S.Si., M.Biomed Wisiva Tofriska Paramaiswari, S.Si Hanifah Fajri Maharani Putri, S.Si
Tim Editor:
Dodi Safari, S.Si., Ph.D
Wisnu Tafroji, S.Si., M.Biomed Korrie Salsabila, S.Si., M.Biomed Yayah Winarti, S.Tr.AK

neumonia merupakan penyakit infeksi tunggal yang paling banyak menyebabkan kematian pada anak-anak di seluruh dunia. Pada tahun 2019, Penyakit ini menyebabkan 740.180 (14%) kematian anak-anak usia kurang dari 5 tahun di seluruh dunia. Pneumonia merupakan penyakit yang paling banyak terjadi di Asia dan sub Sahara Afrika dengan beberapa patogen penyebab diantaranya bakteri, virus, dan jamur. Streptococcus pneumoniae (pneumokokus) merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan bacterial pneumonia pada anak-anak. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, pneumokokus menyebabkan kematian satu juta anak setiap tahunnya. Anak-anak dan lansia, terutama di negara berkembang, menjadi kelompok yang paling rentan terkena penyakit akibat pneumokokus.


Pneumokokus merupakan bakteri Gram positif, berbentuk lanset, diplokokus, fakultatif anaerob dan bersifat fastidious. Bakteri ini secara alami mengkolonisasi nasofaring tanpa adanya gejala apapun, namun dapat bermigrasi ke darah, cairan serebrospinal (otak), dan cairan pleura sehingga menyebabkan invasive pneumococcal diseases (IPD) seperti radang paru-paru (pneumonia), bakteremia, dan radang selaput otak (meningitis). Kolonisasi pneumokokus di nasofaring menjadi tahap awal berkembangnya penyakit dan sumber penyebaran bakteri di komunitas. Anak-anak merupakan kelompok resiko tinggi terinfeksi pneumokokus. Faktor virulensi utama pada pneumokokus adalah kapsul polisakarida. Komposisi kapsul polisakarida menentukan serotipe pada pneumokokus. Saat ini telah teridentifikasi lebih dari 100 serotipe pneumokokus berdasarkan komposisi kapsul polisakaridanya.


Polisakarida kapsul pneumokokus disintesis oleh gen-gen yang berada pada lokus cps sehingga penentuan serotipe (serotyping) dapat dilakukan secara serologis (reaksi antara antisera dengan polisakarida kapsul yang menghasilkan swelling) dan molekuler dengan mendeteksi keberadaan gen pada lokus cps. Beberapa serotipe yang sering menyebabkan IPD disebut sebagai serotipe invasif, seperti serotype 3, 19F, 19A, 6B, 9V, dan 7F. Surveilans mengenai distribusi serotipe pneumokokus baik di komunitas maupun rumah sakit perlu dilakukan guna menilai resiko peningkatan kasus IPD. Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar serotipe invasif ditemukan bersirkulasi di populasi anak – anak sehat dan menjadi penyebab pasien IPD.

Streptococcus pneumoniae (pneumokokus) merupakan bakteri patogen yang menyebabkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas terutama pada anak-anak dan orang tua. Bakteri ini dapat menyebabkan otitis media akut, bronkitis hingga pneumonia, bakterimia, dan meningitis. Sifat pneumokokus yang merupakan bakteri fastidious, yaitu bakteri yang membutuhkan kondisi lingkungan terspesialisasi untuk dapat tumbuh, membuatnya seringkali luput dalam isolasi dan identifikasi di laboratorium. Hal ini membuat pengobatan yang diberikan kepada pasien menjadi tidak tepat, sehingga masa perawatan menjadi lebih lama dan meningkatkan resiko kematian pasien.


Kesuksesan dalam isolasi dan identifikasi pneumokokus membutuhkan beberapa hal yang harus diperhatikan dan dikontrol dengan baik, mulai dari pengambilan spesimen hingga pemeriksaan di laboratorium. Beberapa hal ini meliputi teknik pengambilan spesimen yang aseptik, waktu transfer spesimen yang harus segera dilakukan, media pertumbuhan bakteri yang berkualitas tinggi, serta teknik isolasi dan identifikasi yang tepat. Hal ini akan meningkatkan sensitivitas dalam mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri penyebeb penyakit pada pasien.


Buku ini menyediakan informasi mengenai tata cara pengambilan spesimen, teknik pemrosesan spesimen, pembuatan media pertumbuhan bakteri, metode isolasi dan identifikasi, penentuan serotipe, serta uji kepekaan antibiotik untuk pneumokokus. Penulis berharap melalui terbitnya buku ini kapasitas laboratorium mikrobiologi klinis di Indonesia dapat meningkat dalam mendeteksi bakteri pneumokokus melalui peningkatan keterampilan mikrobiologi tenaga medis rumah sakit. Informasi yang disediakan di buku ini dapat menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas diagnosis di rumah sakit dalam mendeteksi pneumokokus pada pasien.

About the Author: admin

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *