Bunga Rampai “Investasi Generasi Emas: Kumpulan Kajian Upaya Pengendalian Tembakau untuk Mencapai Generasi Unggul di Indonesia”.

Segera Terbit

Bunga Rampai “Investasi Generasi Emas: Kumpulan Kajian Upaya Pengendalian Tembakau untuk Mencapai Generasi Unggul di Indonesia”.

Mencapai Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul merupakan cita-cita Bangsa Indonesia yang harus diperjuangkan bersama melalui berbagai investasi pembangunan. Investasi yang dimaksud adalah investasi kesehatan, pendidikan, perbaikan ekonomi, dan kesejahteraan sosial. Integrasi dan kesinambungan antar sektor tersebut merupakan modal pembangunan untuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Di tengah perjuangan untuk mencapai SDM yang unggul, Indonesia harus menghadapi tingginya angka konsumsi rokok. Konsumsi rokok di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan dapat digambarkan melalui kondisi masyarakat kita yang menganggap normal perilaku merokok. Kita dapat dengan mudah melihat perilaku merokok di sekitar tempat tinggal kita, di fasilitas umum, bahkan di berbagai media baik media cetak, luar ruang, maupun elektronik. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak lain untuk menekan prevalensi merokok, namun belum menunjukkan hasil yang signifikan. Permasalahan ini ditunjang dengan perilaku konsumsi rokok pada anak yang turut meningkat.
Konsumsi rokok yang tinggi dikhawatirkan akan menghambat pencapaian SDM unggul akibat berbagai dampak buruk yang ditimbulkan dari candu rokok. Candu terhadap rokok menimbulkan dampak yang begitu besar terhadap kesehatan masyarakat dan pembangunan sosio-ekonomi yang dikhawatirkan dapat menghambat pencapaian target-target tujuan pembangunan berkelanjutan pada tahun 2030. Perilaku merokok dapat menimbulkan efek kejadian atau peristiwa kecil yang dapat menimbulkan dampak kerusakan yang besar dan sulit diprediksi di kemudian hari.

Pengendalian tembakau di Indonesia sangat penting karena konsumsi rokok menimbulkan berbagai dampak penurunan kesejahteraan rakyat, misalnya kematian, kesakitan, kemiskinan, penurunan kualitas pendidikan dan tingkat kecerdasan, yang pada akhirnya akan meningkatkan beban sistem jaminan sosial di Indonesia.
Prevalensi perokok yang masih tinggi di Indonesia menunjukkan bukti bahwa selain banyaknya laki-laki yang merokok, kaum perempuan dan anak pun menjadi korban. Jumlah perokok cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Begitupun dengan jumlah perokok anak usia di bawah 18 tahun yang mencapai 9,1% di tahun 2018.


Buku ini menjadi dokumentasi bagaimana konsumsi rokok menyebabkan kerugian yang tidak hanya berasal dari kesehatan, melainkan juga sosial dan ekonomi. Kami berharap, dengan adanya kumpulan studi yang komprehensif ini dapat memberikan rekomendasi kepada pemangku kebijakan untuk membuat regulasi pengendalian konsumsi rokok yang kuat dan berdampak untuk menyelamatkan masa depan anak-anak dan remaja menuju generasi unggul serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kita perlu memutus rantai kecanduan nikotin untuk menyelamatkan generasi muda dari dampak zat adiktif. Hal ini perlu diupayakan oleh kerja sama multisektor dan multidisiplin ilmu. Kebiasaan merokok sudah lama ada di Indonesia, dampaknya pun sudah diketahui dan dirasakan khalayak umum. Namun, pengendalian konsumsinya masih membutuhkan waktu untuk dapat mencapai derajat kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik. Saya optimis perilaku bisa berubah dengan kekuatan dari tiga hal, yaitu kuatnya kebijakan publik (strong public policy), adanya dukungan hasil penelitian untuk membuat kebijakan (evidence based policy), dan kekuatan dari suara masyarakat (civil society movement). Dengan tiga hal tersebut, semoga Allah SWT mengizinkan perubahan di negara ini. Buku ini merupakan hasil karya tim penulis dengan harapan bisa mengisi celah dukungan berupa hasil penelitian untuk membuat kebijakan yang lebih kuat dan komprehensif. Promosi kesehatan harus sedini mungkin dilakukan untuk mengurangi biaya kesehatan kuratif karena penyakit yang diakibatkan rokok. Hal ini harus diupayakan agar generasi unggul bebas rokok di Indonesia dapat tercapai. Hilangkan kebiasaan merokok, kita bentuk kembali mindset hidup sehat (reset the attitude, reframe the issues). Saya percaya, kita bisa saling bahu-membahu. Terima kasih untuk Campaign for Tobacco-Free Kids (CTFK), The Union, seluruh mitra pengendalian konsumsi rokok di Indonesia, Fatayat Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), serta khususnya tim kecil Tobacco Control yang senantiasa bekerja sama di PKJS-UI.

About the Author: admin

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *