Paradigma Baru Penanganan Komprehensif Epilepsi Anak Pasca Pendemi COVID-19

Segera Terbit

Paradigma Baru Penanganan Komprehensif Epilepsi Anak Pasca Pendemi COVID-19

Penulis: Prof. Dr. dr. Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K)

Harga jual Buku dan ebook ; Free, disebarkan oleh UI Publishing

Epilepsi merupakan penyakit neurologis yang sering mengenai anak. Data rekam medis tahun 2020-2022 Poliklinik Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta (RSCM) menunjukkan jumlah pasien poliklinik neurologi anak sebanyak 14.402 pasien, dengan kunjungan pasien epilepsi sebanyak 5.760 pasien (40%). Adapun sisanya adalah penyakit neurologis lainnya seperti perkembangan terlambat, infeksi susunan saraf pusat, terlambat bicara dan lain-lain.

Pada suatu penelitian di RSCM mengenai pengaruh pandemi Covid-19 pada pasien epilepsi, didapatkan penurunan angka kunjungan pasien epilepsi ke RS menjadi 63,1% jumlah kunjungan sebelum pandemi. Masalah ketakutan orangtua atau pengasuh membawa anaknya berobat ke RS menjadi alasan keengganan berkunjung ke RS pada 27,4% pasien. Meski demikian, orangtua lebih memilih konsultasi tatap muka langsung (89,6%) dibandingkan telekonsultasi, karena kekhawatiran terjadi miskomunikasi antara dokter dan pasien (39,4%)3. Berdasarkan data di atas, berkembang paradigma baru penanganan komprehensif epilepsi anak pasca pandemi Covid-19 yang akan kami uraikan selanjutnya.

Selama ini, untuk penanganan pasien dengan kejang saat tiba di IGD dapat diberikan obat penghenti kejang melalui intravena atau rektal. Obat fenobarbital dan fenitoin dapat digunakan pada pasien kejang yang datang di IGD4. Algoritma penanganan pasien saat datang dengan kejang telah disebarluaskan oleh Unit Koordinasi Kerja (UKK) Neurologi IDAI pada tahun 2016.5 Namun demikian, belum ada kesepakatan mengenai tata laksana yang diberikan di IGD bila pasien epilepsi datang dengan riwayat kejang di rumah, belum ada kesepakatan di antara dokter anak. Ada yang memberikan diazepam rektal, melakukan observasi dahulu apakah kejang berulang, melakukan pemasangan infus cairan, atau memberikan obat fenobarbital intravena.


Pada penelitian di RSCM tentang tata laksana pasien yang datang di IGD dengan riwayat kejang di rumah, kejang tidak berulang pada 77% pasien yang diberikan bolus fenobarbital IV 10 mg/kg. Sisanya mengalami kejang berulang dan mendapatkan tambahan bolus fenobarbital 5 mg/kg IV. Setelah penambahan dosis obat tersebut, kejang tidak berulang kembali.6 Fenobarbital dapat diberikan langsung secara IV tanpa pengenceran terlebih dahulu, berbeda dengan pemberian fenitoin IV yang memerlukan pengenceran. Sayangnya, saat ini obat fenobarbital IV kadangkala tidak tersedia di Puskesmas dan RS.

About the Author: admin

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *